Australia adalah negara yang memiliki sejarah panjang mengenai penduduk aslinya dan gelombang migrasi yang terjadi setelah kolonisasi oleh Inggris pada abad ke-18. Saat ini, populasi Australia didominasi oleh kelompok etnis tertentu, terutama keturunan Eropa, dengan suku Anglo-Celtic menjadi yang paling dominan. Artikel ini akan membahas bagaimana proses dominasi ini terjadi, faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta dampaknya bagi masyarakat Australia saat ini.
1. Penduduk Asli Australia: Aborigin dan Torres Strait Islander
Sebelum kolonisasi Inggris pada tahun 1788, Australia telah dihuni oleh suku Aborigin dan penduduk Pulau Torres Strait selama lebih dari 65.000 tahun. Mereka memiliki budaya yang kaya, bahasa yang beragam, dan struktur sosial yang kuat.
Namun, kedatangan bangsa Eropa membawa dampak besar bagi penduduk asli, termasuk kehilangan tanah, penyakit, dan kebijakan diskriminatif seperti "Stolen Generations," di mana anak-anak Aborigin dipisahkan dari keluarga mereka untuk diasimilasi ke dalam budaya Eropa.
2. Kolonisasi Inggris dan Dominasi Anglo-Celtic
Pada tahun 1788, Inggris mendirikan koloni pertama di Sydney, dan sejak saat itu, migrasi besar-besaran orang Eropa, terutama dari Inggris, Irlandia, dan Skotlandia, terjadi.
-
Kebijakan White Australia Policy (1901-1973): Selama hampir 70 tahun, kebijakan ini membatasi imigrasi dari non-Eropa dan memastikan dominasi budaya Anglo-Celtic.
-
Pengaruh Bahasa dan Budaya: Bahasa Inggris menjadi bahasa utama, dan sistem hukum serta pendidikan didasarkan pada model Inggris.
-
Pertumbuhan Ekonomi: Dominasi ekonomi oleh kelompok Anglo-Celtic semakin mengukuhkan posisi mereka sebagai kelompok mayoritas di Australia.
3. Gelombang Imigrasi dan Diversifikasi Populasi
Setelah Perang Dunia II, Australia mulai membuka diri terhadap imigrasi yang lebih luas, termasuk dari Italia, Yunani, dan kemudian Asia serta Timur Tengah.
-
Imigrasi Pasca-Perang: Imigran dari Eropa Selatan datang dalam jumlah besar untuk bekerja di industri dan sektor konstruksi.
-
Imigrasi dari Asia: Setelah kebijakan White Australia Policy dihapus, gelombang imigran dari Tiongkok, Vietnam, India, dan Filipina mulai meningkat.
-
Multikulturalisme di Australia: Meskipun populasi masih didominasi oleh keturunan Eropa, kebijakan multikulturalisme sejak 1970-an memungkinkan keragaman etnis yang lebih besar.
4. Dampak Dominasi Anglo-Celtic terhadap Australia
Meskipun Australia telah menjadi negara multikultural, pengaruh Anglo-Celtic masih sangat kuat dalam berbagai aspek kehidupan:
-
Politik: Sebagian besar pemimpin politik Australia berasal dari latar belakang Anglo-Celtic.
-
Ekonomi: Posisi dominan dalam bisnis dan kepemilikan tanah masih dipegang oleh keturunan Eropa.
-
Pendidikan dan Media: Kurikulum pendidikan dan media massa masih banyak dipengaruhi oleh budaya Barat.
5. Tantangan dan Masa Depan
Meskipun telah mengalami banyak perubahan, Australia masih menghadapi tantangan dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif:
-
Isu Diskriminasi: Beberapa kelompok etnis masih menghadapi diskriminasi dalam pekerjaan dan akses layanan.
-
Rekonsiliasi dengan Aborigin: Upaya rekonsiliasi terus dilakukan, termasuk pengakuan hak-hak tanah adat dan peningkatan kesejahteraan komunitas Aborigin.
-
Identitas Nasional: Australia terus berusaha mendefinisikan identitas nasionalnya di tengah keberagaman etnis yang semakin meningkat.
Kesimpulan
Dominasi suku Anglo-Celtic di Australia adalah hasil dari sejarah kolonisasi, kebijakan imigrasi, dan perkembangan ekonomi selama berabad-abad. Meskipun Australia telah berkembang menjadi negara yang lebih multikultural, pengaruh kelompok ini masih sangat kuat dalam berbagai aspek kehidupan. Tantangan ke depan adalah bagaimana menciptakan masyarakat yang lebih adil dan inklusif bagi semua kelompok etnis di Australia.